sepulang dari benteng shalahuddin tadi aku menelponmu, untuk memastikan kamu tidak salah paham, mengapa aku menghubungimu lagi. Aku bukan ingin kembali seperti dulu denganmu, bukan pula berusaha untuk mendekatimu dengan sepenuh usaha, hati tidak bisa dipaksa, benar kan?. begitu juga denganku. hidup memang aneh. dan hanya kebahagiaan yang menghilangkan kejanggalan yang aneh itu.
aku menelponmu, untuk mengatakan kalau sejak ucapanmu kemarin dulu itu, aku telah berusaha mengikhlaskanmu, pergi ke pelukan orang lain, jujur aku sudah ikhlas, sangat ikhlas kalau kau pergi, jadi kalau telpon dan lain sebagainya tadi kau anggap aku ingin kembali padamu, itu salah. (kau pasti akan jawab: “aku malah senang”).
ada ungkapan yang sering diperdebatkan, cinta tak harus memiliki. tapi bagi saya saat ini, cinta adalah mengikhlaskan orang yang sudah ingin pergi. dan sayangnya entah mengapa, lebih mudah mengikhlaskan orang yang kita cintai dari pada ucapan yang pernah dia ucapkan. dan inilah masalahku hingga ada percakapan yang menjengkelkan tadi itu. aku pun sama sepertimu, sudah bosan dengan retorika dan apologi.
sesampainya di rumah aku buka twitter, dan kamu bikin twit yang mengatakan kekhawatiranmu, kayaknya udah dihapus, dengan kata-kata “Kalau nanti dan sudah berulangkali minta maaf.” its ok. aku juga meminta sesuatu padamu saat itu, aku meminta waktu, tapi selang bebarapa hari aku sudah mendengar “kepemilikan”.
ketika kau bilang “kalau nanti dst.” —-hebatnya, semua diomongkan lewat telpon dan inbox tak ada kata2 ngajak ketemu, mungkin karena semuanya sudah tidak penting lagi—-. aku juga minta waktu agar aku bisa pelan2 mengikhlaskanmu, bahkan kamu juga mengatakan, iya pelan2. tapi rupanya kamu ingin cepat pacaran dengan dia dan mengakatan kepemilikan itu, meski sebenarnya belum terjadi, seperti yang kau ceritakan dengan alasannya tadi. (yang kalau aku kira2 sbabnya bukan karena dari dalam dirimu dan alasan yang kau bilang padaku tadi [mungkin sekelumit persen saja lahpengaruh ini], karena kau sudah ingin berpacaran dan mungkin dilarang sama umi, dengan keinginan kamu yang langsung serius, aku yakin kamu sudah minta izin. semoga tebakan saya kali ini salah).
dan memang pada nyatanya, aku terlalu sering salah di matamu.
kuharap aku dan kamu kali ini bisa menanggapinya dengan kepada dingin, tidak pake amarah. biar benar-benar bisa belajar dari masa lalu, dan mampu mengubah diri. katamu kan orang itu berubah. dan kalimat itu dari dulu aku sering pertanyakn sendiri, mengapa orang mesti berubah?
Kutahu kau bukan yang dulu lagi. Bak kembang sari sudah terbagi. -Chairil Anwar
kangen kowe asline aku hahaha
Tanpa ucapan darimu, seolah hilang tubuh ini. saat kau tak lagi teringat, di palung aku tersekat. /dengan seribu perawan hati tak jatuh/tardji menguatkan.
dengan mudah, ah mungkin karena kau sakit, kau mengasihkan headset yang rusak pemberian dari seseorang yang pernah dekat denganmu, untuk aku lem.
entah, adakah lem yang bisa merekatkan satu hati saja? yang telah remuk, mabuk.
aku ingin pergi, pamit darimu, di kota ini aku ingin menyendiri, mencari bisu, sebab padamu tak ada bisu, padamu hanya ku temukan ceria, padamu hanya ada cinta.
aku ingin mencari sepi, menyusuri tepi Nile seorang diri, mendaki menara-menara yang megah tanpa hati, sebab hatiku telah menjadi serigala.
sampai detik ini, masih kuyakini srigala itu akan selalu menjagamu.
enammaretigabelas
(via hadilofyani)