Buka(n) Firman Tuhan & Kacamata

Tentang hati yang teriris hujan dan gadis yang akan selalu menenangkan hati

Tidak pernah ada yang salah dari pertemuan. Seperti A yang merupakan awal, tidak ada yang perlu bertanya mengapa. Bukankah itu takdir? Seperti itu juga takdir yang membuat kita harus menjaga perasaan yang lebih dulu tiba. Karena pun ketibaannya adalah takdir. Yang terakhir datang harus paham dan berdiam lebih dalam.

—~Dinda Hn

Bicara luka, tidak seremeh ia yang melepaskan dekapannya. Aku rela.

—(via elsasyefira)

Cara terbaik adalah tidak mengenal siapapun.

Realita

Cerita ini bermula ketika aku masih anak baru, entah kapan waktunya aku lupa, sejak itu aku meminta bimbingan belajar, karena basic dari pesantrenku kurang, mufrodat yang kuhafal pun hanya bisa dihitung, aku juga jarang buka kamus, jadi aku memilih untuk meminta penjelasan kepadanya. Dari dulu aku memang terbiasa dengan candaan atau gurauan tentang “itu”, jadi aku anggap biasa aja, karena dari dulu nggak ada yang seperti ini jadinya. Mungkin aku memang belum bisa memahami orang lain, dan mungkin juga karena dengan kebiasaanku seperti itu  -bahkan kalau dia tau, bukan hanya aku saja yang seperti itu, teman-temanku pun sama-  akhirnya aku menganggap gurauan itu seperti sebelum-sebelumnya.

Tenyata tidak seperti yang kubayangkan, dia menganggap semua itu adalah lelucon yang tidak pantas. Aku sempat mengatakan sesuatu yang disana aku memakai kata ‘misalnya’, aku sebenernya tidak bermaksud serius, tapi aku berkata seperti itu juga ada maksudnya, aku takut semuanya terjadi karena kedekatan aku dan dia, jadi aku ajukan pertanyaan yang lagi-lagi membuatku ditegur karena ketidakpantasanku. Ah bodoh sekali aku ini, bertanya pertanyaan konyol.

Disamping aku dan dia dekat, bahkan bisa dibilang seperti orang yang sedang “„„” (tau sendirilah seperti apa), tapi aku merasa, sejak pertama kali pertemuan itu dan bahkan sampai sekarang, tak ada perasaan apapun dengannya. Padahal setiap hari bahkan hampir setiap waktu aku di tlf berkali-kali , disamping itu juga ada pertemuan-pertemuan dengannya. Dia pun juga banyak memberikanku kenangan2 , ilmu, pengetahuan, tempat2,  dll. yang sebelumya belum pernah  aku ketahui. Mungkin itulah yang membuat perasaannya muncul.

Tak jarang aku dan dia bertengkar gara-gara masalah sepele, tak ada yang mengalah, sampai kadang mengeluarkan kata kasar. Aku menganggapnya karena dia sering sekali bertanya tentangku, mau kemana, sama siapa, lagi dimana, dan pertanyaan-pertanyaan lainnya. Awalnya aku biasa-biasa aja, tapi seiring dengan jalannya waktu, pertanyaan-pertanyaan itu selalu didatangkan untukku. Aku semakin enggan memberitahukan aktifitasku, karena seolah-olah dia menganggapku sebagai miliknya, dan ternyata benar, dia berkata demikian, bahkan lebih dari itu.

Aku sering sekali berbohong padanya, karena dia selalu (dalam anggapanku) menohok, seperti “benar kan seperti itu?” Kalau aku diam, dia kadang masih terus bertanya dan terus menerus menelfon, padahal udah aku reject berkali-kali, bahkan terkadang kalau aku tidak menjawab lagi dimana n sama siapa, dia langsung menyusulku, 2x dia seperti ini, ngapain coba? Okelah aku maklumi kalau dia melakukan seperi itu karena ada alasannya, tapi setidaknya tidak perlu keterlaluan seperti ini. Nanti juga aku pulang, dan pasti akan berbicara dan mengambil (buku ‘saat itu’).

Suatu ketika dia ragu atas jawabanku, dia lantas membuka pesan jejaring sosialku 2x, karena dia tau paswordnya (juga karena memang dia yang membuatkan fb baruku). Walaupun aku megizinkan, tapi yang namanya privasi haruslah dimengerti, aku pernah bilang kepadanya, beberapa temanku memberikan aku pasword, tapi tak pernah aku buka, karena aku takut ada privasi tersendiri. Katanya biar dia tau yang sebenarnya dan biar tau semuanya. Intinya dia harus tau aktifitasku dan ‘hanya’ bercerita kepadanya saja. Heh? :p

Ngomong-ngomong tentang emot, aku baru tahu setelah aku tidak sengaja mengirimkan emot yang katanya “gitu”, jujur, aku nggak faham sama sekali tentang emot itu, jadi aku benar-benar tidak sengaja. Sejak saat itu, aku tak pernah lagi (kan memang Cuma 1x, itupun tidak sengaja) mengirimkan emot itu , dan ketika dia mengirimkan itu, aku marah. Emot kedua, karena aku sudah terbiasa dengan emot :p, berkali-kali aku mengrimkan itu bukan hanya kepada dia saja, tapi kepada orang lain seperti itu dengan maksud biar terkesan tidak marah/candaan. Ternyata aku salah lagi, dia langsung marah gara-gara aku mengirim itu. Hadeh„, padahal dulu orang lain nggak pernah marah, walaupun aku berkali-kali mengirimkannya. Maka ketika dia mengirimi emot itu, aku juga marah, enak saja, dia marah-marah, eh ketika dia yang ngirim serasa nggak punya salah, ya aku marahin balik lah, emang enak. Sejak saat itu, aku jadi ilfell dengan yang namanya emot seperti itu, aku jadi marah ketika ada orang lain yang memberikan emot seperti itu (kalo keseringan), dan kalau untuk dia satu kali aku akan langsung marah karena dia yang pertama kali memarahiku tentang itu. Lagi dan lagi aku tidak biasanya seperti itu.

Semua kekesalanku dan mungkin (kenangan) yang kusimpan di otak, yang masih tergambar, walaupun samar-samar, membuatku bosan dengan ini semua, capek dengan pertengkaran yang sering sekali terjadi. Aku memutuskan untuk menghindarinya dengan alasan aku sudah menjadi milik orang lain, karena aku pikir dengan cara seperti itu hidupku menjadi tenang, dan yang mebuatku menguatkan, aku memberikan alasan itu karena dia pernah bilang kalau dia tidak akan mengejarku kalau aku tidak ada yang memiliki. Pada renggang waktu itu, hidupku kembali tenang, tak ada kata-kata pedas yang hinggap di telingaku. Sampai saatnya aku mengatakan sejujurnya, bahwa aku bukanlah milik orang lain, aku hanya ingin sendiri, aku hanya ingin kedamaian.  Dan ketika aku mengatakan seperti itu, dia bilang bahwa kenapa tidak bilang sejujurnya kalau mau sendiri, ah, omong kosong, pikirku, sama saja kalaupun aku bilang jangan tlf dulu, dia masih tetap saja, dengan alasan tidak kuat, mungkin aku juga pernah, tapi tidak sesering dia. Itupun bukan karena perasaan yang aku tak kuat, karena memang sudah terbiasa untuk bercerita.

Dan ternyata tebakanku benar, setelah aku berkata demikian, dia masih tetap menghubungiku, dengan alasan dia sudah mengikhlaskanku dengan siapapun, jadi tak berpengaruh apapun padanya. Sama saja. Kalau memang megikhlaskanku harusnya dia tau, kalau aku tidak ingin diganggu, . Masalah pun muncul kembali, pertengkaran mulai terjadi, sudahlah kalau memang terus-menerus sepert ini, tak usah menghubungiku.

Sebenarnya masih banyak yang membuatku dan dia tidak sepaham, sepertinya banyak tidak akurnya. Sebenarnya juga dia tidak semuanya jahat, dia memang baik padaku, tapi kadang membuat orang jadi sangat kesal.

Teman buruk itu seperti bayangan
ada bersama di bawah terik siang
sirna dikala hari-hariku kelam

Perihal kau menanyakan kabar, itu bukan sesuatu yang harus aku jawab, bukan? Mendekatlah, akan aku tunjukan keadaan hati semenjak kau tinggal.

Sesekali, pergilah ke dermaga; maka kau akan tau rasanya disinggahi, kemudian ditinggal pergi lagi.

—Anotherdidhurt (via kunamaibintangitunamamu)

Mungkin kelak aku akan menyesal karena tahu kau punya sedikit rasa, tapi tak apa, mungkin kelak juga sudah ada yang mencintaiku sepenuh hatinya.

—(via jalansaja)

(via asyirafku)

Mau tuhan dan maumu adalah sama, tak pernah bisa kusangka-sangka

Baru ngeh saya, ternyata gara-gara olok2 tulisan bukan karena keluar, yah iya lah kan tulisannya untuk orang yang masih dia harapkan, sebuah nama yang demi dia ia rela menjatuhkan martabatnya.

—Asing

I’m sorry I gave you everything I had without making sure you wanted it.

—Heavy (#418: April 21, 2014)

(Source: write2014, via tryingout)

Kita hanya bisa disakiti oleh orang-orang yang kita sayang bukan??

—(via lutfiannisa)

Jangan move on kawan, mending move up… standar pilihan kita mesti ditingkatkan. Perempuan yang lebih baik hati, yang lebih penyayang, yang perhatian, yang mengerti kalau cinta yang kamu miliki spesial untuknya.

Mochammad Mundir Ikhsan

Jangan datang seperti petir. Tiba-tiba, mengagetkan, menyilaukan, lalu sekejap pergi dengan meninggalkan luka terkejut, debar berantakan, dan rasa getir..

—(via melisalalala)

(via saturindu)